CAGARBOLA – Kenaikan Tarif Impor AS Buat Negara Pembeli Minyak Venezuela Berlaku 2 April 2025

Donald Trump berpidato usai pelantikannya sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat. Inaugurasi Trump berlangsung di Rotunda di Gedung Capitol, Washington DC, Senin (20/1/2025).

Liputan6.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana pemberlakukan tarif impor baru.

Mengutip CNBC International, Selasa (25/3/2025) Trump mengatakan bahwa AS akan mengenakan tarif sebesar 25% pada negara-negara yang membeli minyak dan gas dari Venezuela. Kebijakan baru ini diumumkan ketika Trump berupaya meningkatkan tekanan pada Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Tiongkok.

Dalam sebuah postingan di platform media sosialnya Truth Social, Trump mengatakan bahwa negara-negara yang membeli minyak dan gas dari Venezuela akan menghadapi tarif pada setiap perdagangan yang mereka lakukan dengan AS.

Tarif tersebut dijadwalkan berlaku pada tanggal 2 April, katanya.

“Jika mereka membeli minyak dari Venezuela, mereka harus membayar tarif sebesar 25% untuk berbisnis dengan Amerika Serikat —itu di atas tarif yang ada,” kata Trump dalam keterangan terpisah saat konferensi pers di Gedung Putih.

Venezuela telah mengekspor sekitar 660.000 barel per hari pada tahun 2024, menurut data dari Kpler. Tiongkok menjadi tujuan ekspor terbesar untuk ekspor minyak mentah negara Amerika Selatan itu, membeli 270.000 barel per hari tahun lalu.

“Pengumuman oleh pemerintahan Trump ini tampaknya merupakan satu tindakan lagi yang menargetkan China,” kata Matt Smith, seorang analis minyak di Kpler.

Harga minyak mentah Brent naik 61 sen, atau 0,85%, menjadi USD 72,77 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS juga naik 59 sen atau 0,86%, menjadi USD 68,87.

“Kami memperkirakan harga minyak akan naik mengingat berita ini dan mungkin akan naik lebih jauh jika Trump menindaklanjuti pernyataan ini,” kata analis di Roth, Leo Mariani kepada klien dalam sebuah catatan.

 


2 dari 3 halaman

AS Tujuan Ekspor Minyak Terbesar Venezuela

Diketahui, AS merupakan tujuan ekspor terbesar kedua untuk minyak mentah Venezuela tahun lalu, mengimpor sekitar 233.000 barel per hari, menurut Kpler.

Kemudian ada India yang membeli sekitar 61.000 barel minyak per hari dan Spanyol membeli hampir 60.000 barel minyak per hari dari Venezuela pada tahun 2024.

RI Bisa Rugi USD 2,6 Miliar Jika Kena Tarif Impor Baru dari AS

Sebelumnya, ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yuhistira mengingatkan bahwa pengenaan tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia berisiko menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar di masa mendatang.

“Jadi kalau Indonesia menjadi sasaran dari kebijakan proteksi Amerika dimana terjadi kenaikan tarif misalnya 10%, maka Indonesia akan kehilangan USD 2,6 miliar per tahunnya dari ekspor langsung ke Amerika Serikat,” kata Bhima kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (21/3).

Karena itu, menurutnya, terdapat implikasi terhadap penurunan ekspor dan nantinya surplus perdagangan bisa menurun.

3 dari 3 halaman

Dampak ke Industri Manufafktur

Bhima juga menyoroti sejumlah industri-industri manufaktur di dalam negeri yang berorientasi pada pasar ekspor ke Amerika. Jika terdapat tarif, ia tidak mengesampingkan kemungkinan adanya pergeseran lokasi manufaktur.

“Contohnya pakaian jadi, alas kaki, furniture, pabrik pulp and paper untuk kertas, tisu dan lain-lain itu itu yang orientasinya ke Amerika itu bisa memindahkan pabriknya atau relokasi ke negara yang tidak dikenakan tarif,” katanya.

“Salah satu negara yang punya perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika adalah Vietnam. Hal itu membuat industri kita semakin tidak mampu bersaing dengan Vietnam karena harga jual di pasar Amerikanya jadi naik. Ini yang harus diantisipasi segera, sehingga Indonesia bisa langsung melakukan antisipasi mencari pasar alternatif atau penetrasi ke Amerika secara diplomasi untuk memastikan tidak menjadi target utama,” imbuh Bhima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *